Powered By Blogger

Jumat, 05 Oktober 2012

Pengertian Drama dan Teater


Pengertian Drama dan Teater
Drama
Drama adalah salah satu jenis karya sastra yang mempunyai kelebihan
dibandingkan dengan karya sastra jenis lain, yaitu unsur pementasan yang
mengungkapkan isi cerita secara langsung dan dipertontonkan di depan umum.
Meskipun demikian, ada juga naskah drama yang sifatnya hanya untuk dibaca
atau sering disebut closed drama.
Berdasarkan ciri-cirinya, drama memiliki sifat penokohan yang mempunyai
peranan penting dalam mengungkap cerita di dalamnya. Oleh karena itu setiap
tokoh mempunyai sifat-sifat kritis sebagai penyampai amanat dari pengarangnya,
misalnya satire, humor, ambiguitas, sarkasme ataupun kritik-kritik sosial lainnya
yang tergambar melalui dialog-dialog antartokoh.

Unsur-unsur dalam Drama
Unsur paling pokok dalam sebuah drama ada empat, yaitu lakon (naskah
drama atau text play), pemain (aktor atau aktris), tempat (gedung pertunjukan),
dan penonton. Unsur lakon memegang peranan penting karena pemain tanpa
lakon jelas tidak dapat membuat drama. Begitu pun tempat saja tanpa lakon
tidak akan menghasilkan drama. Tetapi, sebaliknya kalau hanya ada lakon saja,
maka kita masih bisa mengikuti drama-drama bacaan, misalnya “closed drama.
Lakon drama disusun atas unsur-unsur yang sama dengan novel atau roman,
yaitu:
a. Tema, merupakan pikiran pokok yang mendasari lakon drama. Pikiran pokok
ini dikembangkan sedemikian rupa sehingga menjadi cerita yang menarik.
b. Amanat, adalah pesan moral yang ingin disampaikan penulis kepada
pembaca naskah atau pendengar (dalam hal ini) dan juga penonton drama.
Artinya penonton dapat menyimpulkan pesan moral yang telah ia dengar,
baca atau saksikan.
c. Plot. Lakon drama yang baik selalu mengandung konflik. Sebab, roh drama
adalah konflik. Drama memang selalu menggambarkan konflik atau pertentangan.
Adanya pertentangan menimbulkan rangkaian peristiwa yang menjadi
sebab-akibat dan disebut alur/plot.
Secara rinci perkembangan plot drama ada 6 tahap, yaitu:
1) Eksposisi, tahap ini disebut tahap perkenalan, karena penonton mulai
diperkenalkan dengan lakon drama.
2) Konflik, tahap ini adalah tahap kejadian. Insiden inilah mulai plot drama
sebenarnya, karena insiden merupakan konflik yang menjadi dasar
sebuah drama
3) Komplikasi, konflik-konflik yang semakin berkembang dan semakin
banyak, kait-mengkait dan masih menimbulkan tanda tanya.
4) Krisis, tahap ini berbagai konflik mencapai puncaknya.
5) Resolusi, Pada tahap ini dilakukan penyelesaian konflik.
6) Keputusan, tahap terkhir ini semua konflik berakhir dan cerita sebentar
lagi selesai.
d. Karakter atau perwatakan, yaitu keseluruhan ciri-ciri jiwa seorang tokoh
dalam lakon drama.
e. Dialog, meupakan perwujudan dari jalan cerita lakon drama. Dialog yang
dilakukan harus mendukung karakter tokoh yang dimainkan.
f. Setting, adalah tempat, rung, waktu, suasana terjadinya adegan. Karena
semua adegan dimainkan di panggung, panggung harus bisa menggambarkan
tempat adegan yang sedang terjadi.
g. Bahasa, naskah drama diwujudkan dari bahan dasar bahasa dan penulis
drama sebenarnya menggunakan bahasa untuk menuangkan ide dramanya.
h. Interpretasi, adalah penafsiran terhadap lakon drama yang dimainkan yang
biasanya merupakan bagian dari kehidupan masyarakat yang diangkat ke
atas panggung oleh para seniman.
(Terampil Bermain Drama, 2007: 23-30


ARTI TEATER
           Secara etimologis: Teater adalah gedung pertunjukan atau auditorium. Dalam arti luas: Teater ialah segala tontonan yang dipertunjukkan di depan orang banyak. Dalam arti sempit: Teater adalah drama, kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan di atas pentas dengan media : Percakapan, gerak dan laku didasarkan pada naskah yang tertulis ditunjang oleh dekor, musik, nyanyian, tarian, dan lain-lain. Misalnya: wayang orang, ketoprak, ludruk, arja, reog, lenong, topeng, dagelan, sulapan akrobatik, bahkan pertunjukan band dan lain sebagainya.

          Dalam arti sempit/khusus: drama, kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan di atas pentas, disaksikan oleh penonton, dengan media percakapan, gerak dan laku, dengan atau tanpa dekor (setting), didasarkan atas naskah yang tertulis (hasil dari seni sastra) dengan atau tanpa musik, nyanyian, tarian.

Terater sebagai tontonan mempunyai dua bentuk, yaitu: teater modern dan teater tradisional. Teater tradisional tidak menggunakan naskah. Sutradara hanya menugasi pemain untuk memainkan tokoh tertentu. Para pemain di tuntut mempunyai spontanitas dalam berimprovisasi yang tinggi. Contoh teater tradisional antara lain: ludruk (Jawa timur), ketoprak (Jawa tengah), dan lenong (Jawa barat).

Teater Modern menggunakan naskah yang dipegang teguh, dipatuhi dan dilaksanakan seluruhnya. Penataan panggung, musik pengiring, penataan lampu, percakapan dan gerak pemain harus mengikuti naskah.Sedangkan drama, kata ini diambil dari bahasa yunani “draomai” yang berarti berbuat, berlaku, bereaksi, bertindak. Sehingga arti drama ialah perbuatan atau tindakan.Pengertian lain tentang drama ialah:







ARTI DRAMA

Drama berarti perbuatan, tindakan. Berasal dari bahasa Yunani “draomai" yang berarti berbuat, berlaku, bertindak dan sebagainya. Drama adalah hidup yang dilukiskan dengan gerak Konflik dari sifat manusia merupakan sumber pokok drama. Dalam bahasa Belanda, drama adalah toneel, yang kemudian oleh PKG Mangkunegara VII dibuat istilah Sandiwara.

Drama ialah kualitas komunikasi, situasi, action, (segala yang terlihat dalam pentas/panggung) yang menimbulkan perhatian, kehebatan, dan ketegangan pada pendengar/penonton.Drama adalah cerita konflik manusia dalam bentuk dialog, yang diproyeksikan pada pentas dengan menggunakan percakapan dan erak di hadapan penonton.

Seni drama merupakan suatu tontonan hasil perpaduan dari cabang seni lainnya ini dapat dilihat, antara lain: (1) seni sastra untuk naskah cerita; (2) seni lukis untuk tata rias dan tata panggung; (3) seni musik untuk musik pengiring; (4) seni tari untuk gerak-gerik pemain; (5) seni peran untuk pemeranan tokoh.

Ada sejumlah istilah yang memiliki kedekatan makna dengan drama, yaitu:
  1. Sandiwara. Istilah ini diciptakan oleh Mangkunegara VII, berasal dari kata bahasa Jawa sandhi ang berarti rahasia, dan warah yang berarti pengajaran. Oleh Ki Hajar Dewantara, istilah sandiwara diartikan sebagai pengajaran yang dilakukan dengan perlambang, secara tidak langsung.
  2. Lakon. Istilah ini memiliki beberapa kemungkinan arti, yaitu (1) cerita yang dimainkan dalam drama, wayang, atau film (2) karangan yang berupa cerita sandiwara, dan (3) perbuatan, kejadian, peristiwa.
  3. Tonil. Istilah ini berasalh dari bahasa Belanda toneel, yang artinya pertunjukan. Istilah ini populer pada masa penjajahan Belanda.
  4. Teater. Istilah ini berasal dari kata Yunani theatron, yang arti sebenarnya adalah dengan takjub memandang, melihat. Pengertian dari teater adalah (1) gedung pertunjukan, (2) suatu bentuk pengucapan seni yang penyampaiannya dilakukan dengan dipertunjukkan di depan umum.
  5. Pentas. Pengertian sebenarnya adalah lantai ang agak tinggi, panggung, tempat pertunjukan, podium, mimbar, tribun.
  6. Sendratari. Kepanjangan akronim ini adalah seni drama dan tari, artinya pertunjukan serangkaian tari-tarian yang dilakukan oleh sekelompok orang penari dan mengisahkan suatu cerita dengan tanpa menggunakan percakapan.
  7. Opera. Artinya drama musik, drama yang menonjolkan nyanyian dan musik.
  8. Operet. Opera kecil, singkat, dan pendek.
  9. Tablo. Yaitu drama yang menampilkan kisa dengan sikap dan posisi pemain, dibantu oleh pencerita. Pemain-pemain tablo tidak berdialog.
Istilah-Istilah dalam Drama
Babak
Babak, merupakan bagian dari lakon drama. Dalam satu lakon drama mungkin saja terdiri dari satu, dua atau tiga babak bahkan mungkin lebih. Batas antara babak satu dengan babak selanjutnya ditandai dengan turunnya layer atau matinya penerangan lampu pementasan. Bila lampu dinyalakan kembali atau layer diangkat kembali biasanya ada perubahan penataan panggung yang menggambarkan setting yang berbeda.

Adegan
Adegan adalah bagian dari babak. Sebuah adegan hanya bagian dari rabgkaian suasana dalam babak.

Prolog
Prolog adalah kata pendahuluan dalam lakon drama. Prolog biasanya berisi tentang perkenalan tokoh-tokoh dan pemerannya, konflik yang terjadi dan juga synopsis lakon.

Epilog
Epilog adalah kata penutup yang mengakhiri pementasan. Isinya kadang berupa kesimpulan atau ajaran yang bisa diambil dari tontonan drama yang telah disajikan.

Dialog
Dialog adalah percakapan para pemain. Dialog memegang peranan penting karena menjadi pengarah lakon drama. Agar dialog tidak membosankan maka pengucapannya harus disertai penjiwaan secara emosional, selain itu pelafalannnya harus jelas dan cukup keras.

Monolog
Monolog adalah percakapan seorang pemain dengan dirinya sendiri.

Mimik
Mimik adalah ekspresi gerak-gerik wajah untuk menunjukkan emosi yang dialami pemain.

Pantomim
Pantomim adalah ekspresi gerak-gerik tubuh untuk menunjukkan emosi yang dialami pemain.

Pantomimik
Pantomimik adalah perpaduan ekspresi gerak-gerik wajah dan gerak-gerik tubuh untuk menunjukkan emosi yang dialami pemain.

Gestur
Gestur adalah gerak-gerak besar, yaitu gerakan tangan kaki, kepala, dan tubuh pada umumnya yang dilakukan pemain.

Bloking
Bloking adalah aturan berpindah tempat dari tempat yang satu ke tempat yang lain agar penampilan pemain tidak menjemukan.

Gait
Gait berbeda dengan bloking karena diartikan tanda-tanda khusus pada cara berjalan dan cara bergerak pemain.

Akting
Akting adalah gerakan-gerakan yang dilakukan pemain sebagai wujud penghayatan peran yang dimainkan.

Aktor
Aktor adalah orang yang melakukan acting yaitu pemain drama. Untuk actor wanita disebut sebagai aktris.

Improvisasi
Improvisasi adalah gerakan-gerakan atau ucapan-ucapan penyeimbang untuk lebih menghidupkan peran.

Ilustrasi
Ilustrasi adalah iringan bunyi-bunyian untuk memperkuat suasana yang sedang digambarkan. Istilah ilustrasi juga bias disebut musik pengiring.
Kontemporer
Kontemporer adalah lakon atau naskah serba bebas yang tidak terikat aturan.
Kostum
Kostum adalah pakaian para pemain yang dikenakan pada saat memerankan tokoh cerita di panggung.
Sekenario
Skenario adalah susunan garis-garis besar lakon drama yang akan diperagakan para pemain.
Panggung
Panggung adalah tempat para actor memainkan drama.
Layar
Layar adalah kain penutup panggung bagian depan yang dapat dibuka dan ditutup sesuai dengan kebutuhan.
Penonton
Penonton adalah semua orang yang hadir untuk menyaksikan pertunjukan drama.

Sutradara
Sutradara adalah orang yang memimpin dan paling bertanggung jawab dalam pementasan drama.

Rabu, 09 Mei 2012

            Bertahan

Patah sayap tak bergerak
Perih manis beradu satu
Aku lumpuh tanpa cintamu
Aku tak yakin lagi utk bertahan

Aku lelah dengan segala harapan tiada pasti
Rentetan kenangan-kenangan manis
Seakan menyokongku bertahan
Sekaligus menyiratkan betapa lemahnya aku tuk bertahan

Kaulah pemenangnya, dan selalu menang
Bak raja dengan segala otoritasnya
Merayuku dengan jeratan manismu
Memaksaku merubuhkan dinding keraguan yang ku bangun

Gengaman tanganmu membuatku
Kembali bertekad
Menegakkan punggung utk bertahan
Tak perduli apapun yang terjadi


                                                                                                       Rabu 10 Mei 2012 kampus biru

Selasa, 03 April 2012

SEMINAR INTERNASIONAL OLEH BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

T


Pengembangan Keterampilan Menulis
Laporan Seminar Internasional oleh Bahasa dan Sastra Indonesia 

 





Nama         : MUH DAHLAN
NIM  : 10533592809
Kelas : VH

JURUSAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH  MAKASSAR
A.    Sastra di Italia
Sastra di Italia sangat rutin, karena Italia merupakan Negara kesusastraan. Sastra di Italia sangat berpengaruh terhadap sastra dunia. Jadi, sastra di Italia sangat penting. Mulai dari kalangan SMA, pengajarannya sudah diajarkan. Sastra di Italia merupakan warisan budaya dan sangat dicintai oleh masyarakat. Di Italia tidak ada perbedaan terhadap jurusan eksakta maupun ilmu murni, karena melalui ilmu sastra dapat memperkuat kebahasaan.
Sastra dapat memperkuat kebahasaan sehingga sastra menjadi pelajaran wajib di Italia oleh Departeman Pendidikan di sana. Jadi, meskipun bahan yang diajarkan oleh sastra ditentukan oleh PDA di sana, guru mempunyai hak untuk mengajarkan sastra kepada siswa dengan bebas.
Di Italia sekolah dasar (SD 5 tahun) diajarkan aspek menulis dan membaca. Siswa kelas 3 mampu menceritakan teks sastra. Kemampuan membaca mampu membawa unsur-unsur linguistik. Bahan ajar yang dipakai lebih banyak puisi dan naratif seperti dongeng. Siswa di SD diwajibkan membaca buku sastra di rumah dan dipresentasikan di kelas. Kegunaannya adalah untuk mengembangkan estetik dalam memahami teks dan menstimulasi imajinasi anak yang sangat penting, serta belajar mendeteksi unsur-unsur teks agar dapat dipahami, misalnya kemampuan yang diajarakan adalah interverensi, kemampuan itu dilakukan untuk memahami unsur teks, serta murid diminta untuk memahami karya sastra secara karakteristiknya masing-masing. Contoh, di Italia pendekatannya lebih kepada pembaca. Jadi, dalam hal ini si pembaca bukan unsur yang pasif melainkan aktif.
Metode yang digunakan lebih induktif. Artinya anak-anak lebih banyak mencari sendiri, dan sebelum siswa diminta untuk membaca, guru diharapkan membacakan terlebih dahulu dengan suara keras, sehingga siswa terbiasa mendengarkan.
Bahan untuk anak-anak disertai dengan gambar agar lebih menarik. Dianjurkan pula untuk bekerja sama secara individual atau berkelompok. Misalnya, setelah aktivitas membaca dilakukan ada kegiatan lainnya yaitu menggambar atau diberikan gambar untuk diceritakan secara kreatif, atau diberikan cerita kemudian siswa diminta untuk melanjutkan ceritanya.




B.     Multikulturalisme dalam Sastra Asing (Spanyol)
Para guru sastra banyak sekali mendapat kesulitan yaitu membaca, karena membaca dianggap suatu kebosanan. Eropa mempunyai apresiasi sastra sangat tinggi, tetapi juga mempunyai kesulitan untuk memotivasi dalam hal membaca. Para guru di Spanyol terkadang bingung untuk memberikan sastra klasik atau biasa. Sastra anak-anak adalah serangkaian teks yang dibuat oleh orang dewasa yang diperuntukkan oleh anak-anak. Teks sastra mempunyai tujuan tertentu dalam pendidikan.
Sastra sangat menunjang bahasa. Para ahli mengatakan bahwa sejauh mana nilai kemampuan yang dimiliki anak-anak. Ataukah apakah kita memberikan sastra anak-anak? Sastra jangan dijauhkan dalam bahasa. Karena bahasa dalam sastra adalah unik. Sastra itu sangat khas. Guru di Spanyol biasa mengubah bahasa sastra klasik agar lebih menarik sehingga keasliannya sudah tidak ada.
Karya klasik sangat penting karena merupakan warisan nasional. Dalam pengajaran sastra sangat penting diaktifkan. Budaya anak didik tersebut yang konteks budayanya sangat dekat dengan anak. Contohnya, karya dari Van…. Yang membawa keranjang, turun salju. Seharusnya diberikan sastra kebudayaan seperti Ande-ande Lumut yang dekat dengan budaya anak.
Kesimpulannya mengajar sastra itu sulit terutama dalam memotivasi.

C.    Pramudya Ananta Menggugat
Pramudya Ananta menggugat, Prof. Koh Young Hun. Jakarta: Bromedia, Desember 2011 XXiX. 407 hlm.
Melacak jejak Indonesia, Maman S. Mahayana, Universitas Indonesia. Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea.
Beberapa kajian tentang Pramudya:
Apsanti Djoko Sujatno. 2004. Membaca Katrologi Bumi.
Konteks kajian:
1.      Paling lengkap membahas semua novel
2.      Pendekatan biografis, sosial-budaya, dan historisme
Pram dalam sejarah sastra: 1945-1950, 1951-1960, 1961-1965, 1966-1978, 1979- sekarang.
Pengaruh situasi sosial, politik, budaya:
·         Titik berangkat 1945:
1.      Balai Pustaka tidak berada di bawah pemerintahan Kolonial.
2.      Pudarnya dominasi pengarang sastra.
3.      Masuknya unsur daerah.
4.      Latar revolusi sebagai usaha menonaktifkan semangat kebangsaan.
5.      Konsep Angkatan 45.
·         1946-1950:
Ibukota Indonesia pindah ke Yogyakarta 4 Januari 1946
·         1950-1960:
Surat Kepercayaan Gelanggang (18 Februari 1950)
Generasi Gelanggang:
1.      Kebebasan individu.
2.      Kemanusiaan sejagad.
3.      Tanpa ikatan.
4.      Penerimaan berbagai pengaruh asing, pengangkatan budaya baru.
Komunisme adalah termasuk dalam lingkungan humanisme, tetapi negara totaliter Rusia sekarang adalah musuh dari humanisme.
Kesimpulan:
1.      Terjadi perdebatan humanisme universal dan gagasan masyarakat prosetarial.
2.      Seni untuk seniman versus seni untuk masyarakat.
3.      Pembelaan versus penolakan Angkatan 45.
4.      Penolakan versus pemaksaan politik.
Konteks Kritik Sastra
Sastra pada hakikatnya ideologis. Sastra Indonesia sejak Munsyi Abdullah sampai sekarang menawarkan ideologi. Pelajaran sastra:
1.      Apresiasi sastra bukan pengetahuan tentang kesusastraan.
2.      Dapat dimanfaatkan untuk pelajaran demokrasi.
3.      Bagian dari cara berpikir kreatif dan argumentasi.
4.      Pintu masuk untuk memahami budaya, etnik di seluruh Nusantara.
5.      Penelitian sastra mestinya tidak berhenti hanya pada makna dan tafsir teks, melainkan juga melakukan penelusuran pada konteks sosial- budaya.

Pramudya menggugat melacak jejak Indonesia:
1.      Jembatan untuk menempatkan pengarang dalam konteks sejarah.
2.      Jembatan untuk mencoba memasuki karya-karya yang dibahas.
3.      Penerimaan/penolakan pada sebuah kajian (sastra) memungkinkan kehidupan kritik sastra berkembang semarak.
Pram menggugat siapa?
·         Nasionalisme
·         Sejarah
·         Feodalisme
·         Indonesia (Nusantara) sebagai Negara maritim
·         Kedudukan dan peran wanita.

D.    Sastra di Kaula Muda
Karya sasrta di Indonesia ternyata mengalami perubahan-perubahan yang disebut periodisasi lama. Terjadi pergeseran di mana diangkat pujangga lama dan syair.

Berikut para keynote speaker
1.      Prof Maman. S. Mahayana ( Universitas Hangkuk Korea)
2.      Emilia Magilone ( Universitas Napai Italia)
3.      Denny Susanto (Universitas Indonesia)
4.      Andi Arsyil Rahman Putra (Indonesia)

1.      Prof. Maman. S. Mahayana (Universitas Hankuk-Korea)

Dalam hal ini Prof. Maman S. Mahayana membahas masalah buku yang berjudul pramodya menggugat pradata:
Pramodya Menggugat Pradata
Melacak jejak Indonesia Prof. Koh Young Hun Jakarta: Gramedia, Desember 2011 XXXiX+ 407 halaman, Maman S. Mahayana Universitas Indonesia Hangkuk University of Foreg Studies Scoul – Korea

Pramodya menggugat apa?
1.      Nasionalisme ketika nasionalisme luntur
2.      Sejarah yang sering kau melupakannya
Contoh: Syekh Yusuf yang mengorbankan Islam melalui buku wajib dalam masjidil haram
3.      Feodalisme
4.      Indonesia Sebagai Negara maritime atau Nusantara
5.      Kedudukan peran wanita.
Agamanya wanita yang kenyataanya sekarang wanita ikut andu dalam peran nasional.


2.      Emilia Magilone ( Universitas Napoli Italia)
           
                        
                             “ Italia adalah Negara Sastra”
Sastra di Italia merupakan Pengaruh kesusastaraan dunia salah satu cabang sastra, sonata yang diciptakan di Italia bahkan ada sastrawan yang menggunakannya : Misalnya, para penyair di Italia ada yang menenangkan enam norel sastra. Italia sangat mementingkan Sastra, mulai dari tingkat SD, SMP, dan SMA. Sastra merupakan warisan budaya yang dicintai, Jadi, memang kami di Italia sering mengadakan kegiatan rutin dan diberikan pengajaran sastra yang dikembangkan secara menyeluruh. Di Italia tidak ada yang dibeda-bedakan sehingga sastra menjadi pelajaran resmi, meskipun bahan-bahan dalam sastra ditentukan oleh Pengajaran semua guru-guru.
Sekolah SD. Enam tahun masanya selama dua tahun pertama memiliki dua kompotensi yaitu menulis dan membaca dan setelah kelas tiga dapat mempelajari teks-teks sastra, kemampuan membaca adalah kita mampu membaca dengan baik, bahan yang dipakai banyak namun yang sering dipakai SD di Italia wajib membaca satu buku dan harus ada catatan kecil kemudian dipresentasikan di kelas guna untuk mengembangkan rasa estetik dan belajar juga untuk mendeteksi unsur-unsur  dalam  teks, misalnya, kemampuan yang diajarkan dengan intenperensi seperti apa kemampuannya. Murid-murid diminta untuk menulis (Emilia) akan memberikan contoh dalam keterampilan membaca yang dapat berinteraksi dengan teks, metode yang digunakan membantu atau membimbing daya (kosongkan).Dan sebelum meminta anak-anak membaca sastra guru terlebih dahulu membacakan dengan suara keras sehingga siswa dapat memahaminya.

3.Danny Susanto ( Universitas Indonesia).

“ Pengajaran Sastra Di Spanyol”

Pengajaran guru biasanya mengalami kesulitan. Apresiasi yang sulit diajarkan untuk memotivasi siswa dalam membaca apalagi sastra. Sastra anak-anak adalah serangkaian teks yg ditulis sesuai dengan pemahaman anak-anak. Sastra itu sendiri memiliki kekhasas dalam bersastra. Karya klasik nasional yang bersifat nasional susah untuk dimengerti anak. Anak, sebagai pendidik penting sekali diajarkan sehingga konteks budaya dalam dapat di ketahui anak-anak.
 4 Andi Arsyil Rahman Putra ( Indonesia )
 Dimana pun kita bias menulis. Menulislah demi kemanusiaan jangan karena materi, dan jangan menulis karena membaca.