Powered By Blogger

Kamis, 20 November 2014

PENGKAJIAN FIKSI BERDASARKAN PENDEKATAN RESEPSI



PENGKAJIAN FIKSI BERDASARKAN PENDEKATAN RESEPSI
            Tanggapan pembaca terhadap karya sastra disebut  resepsi sastra yang lebih dikenal  adalah kritik respons pembaca. Paradigma sastra ini menjelaskan bahwa makna karya sastra adalah hasil interpretasi yang dibangun, didirikan dan dikonstruksi oleh pembaca serta penulis terhadap sebuah teks pembacaan. Konsentrasi bereferensi pada tindak kreatif pembaca dalam memasukkan makna ke dalam teks sastra. Paradigma ini beranggapan bahwa orang yang berlainan akan menginterpretasikan karya sastra secara berlainan pula, dan begitu seterusnya
            Ilmu sastra yang berhubungan dengan tanggapan pembaca terhadap karya sastra disebut estetika resepsi, yaitu ilmu keindahan yang didasarkan pada tanggapan-tanggapan atau persepsi pembaca terhadap karya sastra.
            Menurut  Abrams (1976: 6-7) pada dasarnya orientasi terhadap karya sastra , pertama, karya sastra itu merpakan tiruan alam atau penggambaran alam.  Orientasi ini merupakan pendekatan para ahli sastra sejak zaman Plato dan aristoteles (abad ke-4SM) yang menganggap karya sastra itu sebagai tiruan alam.  Kedua, karya satra itu merupakan alat atau sarana untuk mencapai tujuan tertentu pada pembacanya. Orientasi ini adalah orientasi kaum Humani, kaum Thomis,  dan kaum Marxis. Ketiga, karya sastra merupakan pancaran perasaan, pikiran, ataupun pengalaman sastrawan. Orientasi ini adalah orientasi kaum romantik yang menganggap karya sastra sebagai pancaran pribadi pengarang.  Keempat, karya sastra itu merupakan sesuatu yang otonom, mandiri, lepas dari alam sekelilingnya, pembaca maupun pengarangnya. Orientasi ini adalah orientasi pada Kritikus Baru, dan aliran Chicago (Abrams, 1981: 7).
            Menurut Teeuw (1983: 59) karya sastra sangat erat hubungannya dengan pembaca, yaitu karya sastra ditujukan kepada pembaca, bagi kepentingan masyarakat pembaca. Di samping itu, pembacalah yang menentukan makna dan nilai karya sastra. Karya sastra tidak mempunyai arti tanpa ada pembaca yang menanggapinya. Karya sastra mempunyai nilai karena ada pembaca yang menilaia.
 Seorang pembaca mengharapkan bahwa karya sastra yang dibacanya sesuai dengan pengertian sastra yang dimilikinya. Dengan demikian, pengertian mengenai sastra seorang dengan orang lain mungkin berbeda. Perbedaan itu disebut perbedaan cakrawala harapan. Cakrawala harapan seseorang ditentukan oleh pendidikan, pengalaman, pengetahuan, dan kemampuan menganggapi karya sastra.
Menurut  Segers (1978:41) ada tiga kreteria cakrawala harapan. Pertama, ditentukan oleh norma-norma yang terpancar dari teks-teks yang telah dibaca; kedua, ditentukan oleh pengetahuan dan pengalaman atas semua teks yang telah dibaca sebelumnya; ketiga, pertentangan antara fiksi dan kenyataan yaitu, kemampuan pembaca untuk memahami, baik dalam horizon ‘sempit’ dari harapan-harapan sastra maupun dalam horizon ‘luas’ dari pengetahannya tentang kehidupan.
Karya sastra merupakan penjelmaan ekspresi yang padat, maka hal yang kecil-kecil tidak dapat diungkapkan, begitu juga hal-hal yang tidak langsung berhubungan dengan cerita atau masalah. Dengan demikian, setiap pembaca diharapkan mengisi kekosongan tersebut. Bahkan oleh Segers (1980:39) mengungkapkan bahwa makin banyak tempat yang kosong, karya sastra makin bernilai. Namun ada batasnya, yaitu kalau terlalu banyak yang kosong menyebabkan pembaca tidak dapat mengisinya. Cakrawala harapan dan tempat terbuka merupakan pengertian dasar untuk memahami estetika harapan.
Metode estetika resepsi berdasarkan teori bahwa karya sastra itu sejak terbitnya selalu mendapat resepsi atau tanggapan para pembacanya. Menurut Jauss (1974: 12) apresiasi pembaca terhadap sebuah karya sastra akan dilanjutkan dan diperkaya melalui tanggapan-tanggapan  yang lebih lanjut dari generasi ke generasi. Dengan cara ini makna histories karya sastra akan ditentukan dan nilai estetiknya terungkap.
            Sebuah karya sastra bukanlah objek yang berdiri sendiri. Sebuah karya sastra merupakan orkestrasi yang selalu menyuarakan suara-suara baru di antara para pembacanya (Jauss, 1974:14).
            Dalam metode estetika resepsi ini diteliti tanggapan-tanggapan setiap priode, iaitu tanggapan-tanggapan sebuah karya sastra oleh para pembacanya. Pembaca dalam hubungan ini yang dimaksud adalah para kritikus sastra dan ahli sastra yang dipandang dapat mewakili para pembaca pada priodenya. Menurut Vodicka        (1964: 78) yaitu ahli sejarah, para ahli estetika, dan para kritikus.
Para ahli sastra di setiap priode memberikan komentar-komentar berdasarkan konkretisasinya terhadap karya sastra yang bersangkutan. Kongkretisasi adalah istilah yang dikemukakan oleh Vodicka berasal dari Roman Ingarden yang berarti pengonkretan makna karya sastra atas dasar pembacaan dengan tujuan estetika (Vodicka, 1964: 78-79).
            Lanjut,  Vodicka (1964: 78-79) mengemukakan bahwa para ahli sejarah sastra, para ahli estetika, dan para kritikus tidak selalu sama mengenai norma tunggal ‘yang benar’ sebab memang tidak ada norma estetika tunggal yang benar. Efek estetika karya sastra sebagai keseluruhan, begitu juga konkretisasinya, tunduk kepada perubahan yang terus-menerus.
            Kekuatan sebuah karya sastra tergantung pada kualitas yang dikandung secara potensial karya itu dalam perkembangan norma sastra, jika karya sastra dinilai positif, berarti karya tersebut mempunyai jangka hidup yang lebih panjang daripada sebuah karya yang efektivitas estetiknya habis pada masanya ((Vodicka, 1964: 79).
            Seperti halnya yang dikemukakan oleh Segers (1978: 49) bahwa penelitian dengan metode estetika resepsi yaitu: (a) merekonstrksi bermacam-macam konkretisasi sebuah karya sastra dalam masa sejarahnya dan (2) meneliti hubungan di antara konkretisasi itu di satu pihak dan di lain pihak meneliti hubungan di antara karya sastra dengan konteks histories yang memiliki  konkretisasi- konkretisasi itu.
            Berangkat dari uraian tersebut, berikut akan ditampilkan tanggapan pembaca tentang novel Tarian Setan karya Saddam Hussein. Namun sebelumnya diperhatikan lebih dahulu sinopsis novel tersebut.
1.      Sinopsis Novel Tarian Setan karya Saddam Hussein
Judulnya  Tarian Setan, ini novel keempat Saddam. Sejak 2001, penguasa 24 tahun Irak itu menerbitkan satu novel setiap tahun. Semua novel menyajikan gaya dan tema yang senapas: perseteruan tiga agama langit di Timur Tengah pada abad ke- 6. Tarian Setan secara khusus mengaitkan diri dengan peristiwa "Selasa Kelabu", 9 September 2001, ketika dua pesawat Boeing 737 ditabrakkan ke menara kembar World Trade Center di New York, Amerika Serikat.
Ada sosok Hasqil si tamak, licik, dan haus kekuasaan yang bersekongkol dengan kepala suku adikuasa Romawi. Ada penaklukan suku-suku dan pemerasan rakyat yang menghasilkan menara kembar, tempat menimbun harta hasil memeras rakyat. Ada tokoh Salim, simbol pemersatu suku-suku melawan persekongkolan adikuasa.
Ibrahim kemudian mengusir Hasqil karena anak itu tertangkap meraba payudara dan akan memperkosa anak seorang kepala suku . Hasqil digambarkan sebagai anak yang pandai berkelakar, suka berdebat, cerdik memikat hati orang. Berkat wataknya itu, ia berhasil menyusup ke pelbagai suku. Tapi, di balik sikap menyenangan itu, Hasqil sebenarnya berhati culas.
Untuk menghidupi dirinya ia berdagang emas dan alat perang. Agar barangnya laku, Hasqil mengadu domba suku-suku supaya berperang. Siapa yang kalah kesanalah ia akan merapat seraya tetap menjalin hubungan baik dengan suku yang menang. Petualangannya sampai di suku al-Mudtharrah yang sedang berselisih dengan suku al-Mukhtarah. Hasqil datang untuk mempercepat peperangan.
Al-Mudhtharrah kemudian kalah. Hasqil menghasut warga agar mengasingkan kepala suku yang tak becus memimpin perang. Dengan dukungan Romawi, Hasqil diangkat menjadi kepala suku al-Mudhtharrah yang baru. Ia bahkan meniduri istri kepala suku yang silau dengan kalung dan berlian. Tapi, selalu ada perlawanan dari setiap pemakzulan. Lazzah, anak gadis kepala suku, yang sejak awal mencium niat jahat Hasqil segera menyusun kekuatan. Ia mendekati para pemuda, memberi kesadaran kepada perempuan, agar bangkit semangat perempuan sukunya. Dia mulai dari teman-teman dekatnya, anak-anak pamannya untuk melawan melawan. Kemudian muncul tokoh Salim yang tampil memimpin pasukan. Pertempuran sengit pun tak bisa dielakkan. Kekuasaan Hasqil dan Romawi runtuh dengan terbakarnya menara yang diagungkan,.
2.      Kajian Resepsi Novel Tarian Setan Karya Saddam 
            Tanggapan pembaca terhadap novel Tarian Setan relatif ada yangtanggapan. Sesuai apa yang ditemukan penulis di internet yang diakses taggal 24 Mei 2008 seorang pembaca menguraikan bahwa sesuai dengan judulnya Tarian Setan, (disingkat T.S) tidak mengherankan tokoh utamanya berkelakuan atau karakternya persis seperti karakter setan. Ini novel keempat Saddam. Sejak 2001, penguasa 24 tahun Irak itu menerbitkan satu novel setiap tahun. Semua novel menyajikan gaya dan tema yang senapas: perseteruan tiga agama langit di Timur Tengah pada abad ke- 6. Tarian Setan secara khusus mengaitkan diri dengan peristiwa "Selasa Kelabu", 9 September 2001, ketika dua pesawat Boeing 737 ditabrakkan ke menara kembar World Trade Center di New York, Amerika Serikat.
Kisahnya dibuka dengan cerita tiga cucu Ibrahim: Hasqil, Yusuf, dan Mahmud, di Efrat. Keluarga ini berpindah tempat mukim karena mengikuti Ibrahim menyebarkan agama Allah ke pelbagai suku di Arab. Hasqil tentu saja mewakili Yahudi, Yusuf sebagai Nasrani, dan Mahmud yang Islam.
             Novel ini mengambil sepenuhnya kisah Hasqil yang digambarkan Saddam persis perawakan Ariel Sharon, Perdana Menteri Israel periode 2001-2006: bungkuk, alis tipis, hidung panjang, dan kepala botak. Berbeda dengan dua adiknya yang penurut, Hasqil sudah membangkang sejak kecil. Ia sering mendebat kakeknya jika mereka sedang mengobrol tentang agama.
          Ibrahim kemudian mengusir Hasqil karena anak itu tertangkap meraba payudara dan akan memperkosa anak seorang kepala suku (T.S, 41) sebagaimana kutipan berikut ini
               … Dia terjekut dan berusaha lari. Saat itu pembantunya sedang tak ada di rumah. Aku menariknya sebelum ia sempat kabur dari rumah. Tangan kiriku membekap mulitnya dan tangan kananku mendekapnya. Aku menyeretnya ke dalam rumah. Hamper saja aku menodainya sebab yakin ia tak mungkin berteriak karena hanya akan membuka aibnya. Aku terpaksa menunda melakukannya di hari berikutnya. Dia tak mungkin ingkar janji akan melayaniku. Tak seorang pun yang akan mencegah keinginanku. Suara kedua pembantunya membuatku harus keluar rmha dari arah samping. Aku terpaksa menundanya. Aku berharap hari ini akan menuntaskan hasratku (T.S, 2006: 41)
Hasqil digambarkan sebagai anak yang pandai berkelakar, suka berdebat, cerdik memikat hati orang. Berkat wataknya itu, ia berhasil menyusup ke pelbagai suku. Tapi, di balik sikap menyenangan itu, Hasqil sebenarnya berhati culas.
         Untuk menghidupi diri ia berdagang emas dan alat perang. Agar barangnya laku, Hasqil mengadu domba suku-suku supaya berperang (T.S, 98). Hal ini sesuai uraian yang terdapat dalam novel tersebut
            “Aku tak mau punya kuda, domba, atau unta sebab pekerjaan itu berat dan hasilnya murak dibandingkan emas. Tapi bukankah pertanian adalah ukuran umum kekayaan manusia. Jumlahnya sekarang sedikit bahkan sebagian perempuan lebih ingin punya emas dan perak. … aku kini punya banyak emas serta perak, dan seorang pun yang memerangiku (T.S, 2006: 98).
 Siapa yang kalah kesanalah ia akan merapat seraya tetap menjalin hubungan baik dengan suku yang menang. Petualangannya sampai di suku al-Mudtharrah yang sedang berselisih dengan suku al-Mukhtarah. Hasqil datang untuk mempercepat peperangan.
          Al-Mudhtharrah kemudian kalah. Hasqil menghasut warga agar mengasingkan kepala suku yang tak becus memimpin perang. Dengan dukungan Romawi, Hasqil diangkat menjadi kepala suku al-Mudhtharrah yang baru. Ia bahkan meniduri istri kepala suku yang silau dengan kalung dan berlian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar